ARTIKEL AKSI NYATA 1.4 PENUMBUHAN BUDAYA POSITIF MELALUI KESEPAKATAN KELAS (PEMBELAJARAN TATAP MUKA/HOME VISIT)

 

Oleh: Hotmaria Suriani (CGP-Deli Serdang)

 

Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak

Era globalisasi menjadikan kita sebagai guru harus lebih siap dalam menghadapi tantangan dalam menddidik anak di sekolah. Mengapa tidak? Era ini adalah zaman dimana semua bisa dilihat, dijangkau baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Hanya dengan memiliki smartphone maka anak seolah bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kecanduan main game, berteman lewat dunia maya sudah cukup, sehingga jiwa sosial maupun kepedulian anak terhadap sesama sangat berkurang. Jika dahulu anak bermain permainan tradisional dihalaman bersama teman dapat membuat anak lebih mudah bersosialisasi, memiliki sikap peduli dan memiliki jiwa sosial lebih tinggi. Namun sekarang hal itu sudah sulit dujumpai, dikarenakan perkembangan zaman menuntut setiap rumah harus memilikinya. Apalagi masa covid, yang sangat memerlukan barang yang satu ini untuk melancarkan pembelajaran daring. Namun, hal yang disayangkan banyak orang tua yang kurang dalam pengawasan terhadap pengunaan smartphone anaknya. Penyalahgunaan smartphone yang salah seperti kecanduan main game , sosmed yang berlebihan atau hal lain yang sangat tidak sesuai untuk perkembangan anak seusianya. Maka tidak heran jika anak zaman dulu lebih memiliki etika maupun kepedulian dibanding anak zaman sekarang. Sebagai contoh, anak dulu jika melihat gurunya dari jauh akan berpapasan maka si anak merasa segan untuk berjumpa, dan berusaha mencari jalan lain agar tidak berpapasan dengan gurunya tersebut, itu saking hormatnya. Berbanding terbalik dengan anak zaman sekarang, jika gurunya sedang jalan kaki, si anak malah sengaja ngegas keretanya dengan sekencang-kencangnya saat ngelewati gurunya. Luar biasa kan perbedaannya?

 Terkait dengan penumbuhan budaya positif sebagai upaya membangun karakter anak sesuai dengan yang  dibahas dalam modul 1.4, maka saya tertarik untuk menerapkannya lewat kesepakatan kelas. Di awal rancangan, saya merencanakan prakteknya di saat pembelajaran normal. Ternyata, pandemi belum berakhir sehingga, kesepakatan kelas yang saya rencanakan tidak bisa dilakukan sebagaimana rencana di awal. Kesepakatan kelas tetap dilaksanakan namun dalam pembelajaran tatap muka/home visit bukan di sekolah. Melalui membangun kesepakatan kelas, dharapkan dapat membangun budaya positif anak sehingga menjadi karakter.

 

 

Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut 

Jujur dalam aksi nyata yang saya lakukan belum sebaik yang diarahkan dalam modul program guru penggerak. Sebaiknya dalam membuat kesepakatan, selauruh warga sekolah harus terlibat. Namun karena pandemi covid-19, kesepakatan kelas hanya melibatkan siswa saja. Kemudian hasil kesepakatannya saya bagikan di WAG, sebagai pemberitahuan kepada orang tua bahwa kita memiliki kesepakatan dalam kelas yang harus disepakati. Masa pandemi yang tak kunjung usai ini juga, menjadikan rencana kesepakatan kelas berubah dari yang tatap muka normal menjadi tatap muka/home visit. Dalam pembelajaran home visit, guru bersama siswa menyepakati kesepakatan kelas yang harus disepakati bersama saat belajar.

Di bawah ini merupakan deskripsi aksi nyata yang saya lakukan meliputi:

a)      Penanaman nilai spritual dengan membiasakan berdoa sebelum belajar (Daring/luring). Memperkuat penanaman spritual terkait ketaan dalam beribadah, dalam hal ini saya lakukan dengan sering bertanya apa kewajiban yang telah dilkukan dalam hal ibadah,misalnya solatkah tadi? Siapa yang solat subuh tadi? Dengan sering bertanya demikian, memotivasi anak untuk selalu ingat beribadah. Lewat tanya jawab ini saya mengingatkan jika kita punya kesepakatan kelas “Kami guru dan siswa yang taat beribadah”. Jika ada kesepakatan maka harus dikerjakan bukan diabaikan. Maka saya menunjukkan kembali kesepakatan yang dibuat bersama. Budaya positif jika dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan maka akan berdampak positif bagi anak.

b)      Guru menjalankan kesepakatan, menegur siswa yang melanggar kesepakatan bertanya apa yang dilakukannya, mengapa ia melakukan dan apa yang seharusnya ia lakukan. Dalam hal ini guru mendorong siswa untuk memahami kesalahannya, dan menuntunnya untuk memikirkan solusi dari masalah yang ia hadapi.

c)      Guru senantiasa mengingatkan kesepakan kelas yang ada, menyadarkan siswa bahwa kesepakatan kelas sangat berguna dalam membangun budaya positif sehingga dapat membentuk karakternya.Sering mengingatkan bahwa tujuan pendidikan yang utama adalah akhlak, karakter maupun  moral.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan 

Bicara terkait hasil aksi nyata, saya belum bisa melihat perubahan yang signifikan, hal ini karena, keterbatasan waktu bertemu dengan siswa saat kegiatan home visit. Dalam satu kelas, siswa saya  dibagi menjadi 4 gelombang. Sehingga, setiap siswa hanya mendapat sekali kesempatan pembelajaran home visit dalam seminggu. Untuk kesepakatan masih terdapat pelanggaran, anak-anak sering lupa akan adanya kesepakatan. Hal ini, disebabkan lingkungan lebih dominan mempengaruhinya dibanding kelas kita yang durasinya hanya kurang lebih 2 jam dalam seminggu. Semua masih berproses, saya juga masih berproses untuk terus melatih diri dalam membimbing anak lewat kesepakatan kelas yang dibuat.  Mengapa saya katakan demikian? Ya,.. karena kesepakatan kelas sangat berkaitan dengan proses berpikir lambat yang harus dimiliki seorang guru. Bukan memarahi siswa ketika melanggar, tapi menuntunnya agar ia tahu bahwa yang ia perbuat adalah salah. Memandunya agar ia bisa memecahkan masalah yang harus ia lakukan jika mengalami masalah yang sama. Semenjak saya tahu tentang perlunya berpikir lambat, maka maka saya terus belajar untuk mengaplikasikannya karena ini sangat berkaitan dengan penerapan kesepakatan kelas yang dibangun di kelas. Dengan memiliki sikaf yang mampu mengendalikan emosi/berpikir lambat maka sangat membantu saya dalam mengarahkan anak untuk membangun disiplin positif.

           

 

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)

            Dalam penumbuhan disiplin positif, guru perlu mengetahui posisi guru sebagi manager. Bukan hanya sekedar mengetahui, namun juga harus konsisten terhadap posisi guru yang sebenarnya. Berbicara keberhasilan, menurut saya ada satu keberhasilan yang  lakukan. Ketika itu, pembelajaran home visit ke salah satu rumah siswa, setelah ada beberapa siswa yang sudah berkumpul di sekolah, maka kami berjalan sama-sama ke rumah tujuan. Di saat berjalan saya bertanya dimana rumah  anak yang sangat jarang datang/mengikuti pembelajaran. Kemudian, saya minta siswa mengarahkan perjalanan menuju rumah siswa tersebut. Ternyata anaknya tidak ada dirumah, kata kakaknya si anak ada di warnet. Kami juga menyusul ke arah warnet. Tak lama sianak keluar, dia melihat saya dengan sedikit ketakutan. Dia sadar kalau ia banyak salah, jarang mengikuti pembelajaran, tugas jarang kumpul.

            Saya langsung melemparkan senyum, dan berujar, “Ayo kevin belajar ke rumah Nisa!” “Ambil bukumu ya,..!” saya ucap dengan penuh harap. Si anak tiba-tiba senang mendengar kata-kata dari saya,.. ia langsung menjawab “ia buk,..” dengan nada semangat. “Tahu rumah Nisa kan?” Berusaha tuk mendekatkan dan meyakinkan jika saya tidak marah ke anak. “Iya buk.. saya tahu,..” sahutnya. Biasanya anak ini jika jumpa saya di sekolah, ketakutan,.. padahal saya tidak pernah memarahi anak tersebut. Selidik punya selidik ternyata si anak tersebut ada masalah dengan guru sebelumnya. Karena tahu demikian, saya selalu berusaha meyakinkan dia supaya dia nyaman dengan saya, tapi usaha saya gagal. Namun kali ini tidak. Saya berhasil merebut hatinya.

            Sambil menunggu anak tersebut, kami juga lanjutkan perjalan menuju rumah nisa. Tak lama anaknya datang. Dalam mengikuti pelajaran ternyata anaknya lumayan pintar. Saya menyimpulkan bahwa dengan membuat anak nyaman dengan guru/lingkungan belajar ternyata berpengaruh besar terhadap perkembangan ide maupun kreatifitas anak. Saya berhasil mengendalikan emosi saya, ketika berjumpa dengan anak yang begitu sudah banyak melanggar peraturan. Namun karena saya mengetahui posisi saya, kemudian mengedepankan berpikir lambat sehingga anak menjadi lebih nyaman dalam mengikuti pembelajaran.

 

            Untuk menumbuhkan disiplin positif melalui kesepakatan kelas butuh keterlibatan semua pihak dan harus dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Waktu yang masih terbatas, sehingga penumbuhan budaya positif belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Namun demikian, terlihat sedikit ada perubahan anak dalam beretika. Semisal, biasanya anak yang suka main-main dalam berdoa, sudah terlihat lebih khusuk dari biasanya. Biasanya anak suka usil dalam pembelajaran, namun sudah menunjukkan perubahan, meskipun sesekali anak tersebut masih mau usil. Maka dari itu, semua butuh waktu. Semoga dengan kekonsistenan saya dalam memahami posisi saya sebagai guru dalam menjalankan kesepatan ini dapat menumbuhkan disiplin positif siswa.

 

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

            Agar penumbuhan budaya disiplin positif dapat berjalan lebih baik, maka perlu saya lakukan perubahan dengan mengatur ulang jadwal home visist anak. Dengan  memperbanyak jumlah pertemuan bersama siswa maka akan memungkinkan penumbuhan budaya positif siswa berjalan lebih efektif.

 

 

 

Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/narasi singkatnya.

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal 29 Janauari 2021 (Sebelah kiri Guru menanamkan sikap spritual berdo’a sebelum memulai pembelajaran) dan Melibatkan siswa untuk membuat kesepakatan kelas


 

 


 


Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal  30 Janauari 2021 (Sebelah kiri Guru menanamkan sikap spritual berdo’a sebelum memulai pembelajaran) dan Melibatkan siswa untuk membuat kesepakatan kelas

 


                                                                                              

 

Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal 09 Janauari 2021. Penumbuhan budaya positif lewat kesepakatan kelas home visit
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal  22 Januari 2021. Penumbuhan budaya positif lewat kesepakatan kelas home visit
 

 

 


Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal 08 Janauari 2021. Penumbuhan budaya positif lewat kesepakatan kelas home visit
Rounded Rectangle: Gambar  Guru sedang melakukan pembelajaran  Home Visit tanggal 23 Janauari 2021. Penumbuhan budaya positif lewat kesepakatan kelas home visit
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemetaan Unsur-Unsur Pemangku Kepentingan Serta Kekuatan/Potensi Lingkungan Sekolah